Pengamat: Ajak Pendukung Melakukan Perbaikan di Sepak Bola Indonesia

By | October 17, 2022
TGIPF : Pemerintah Tak Izinkan Liga Bergulir Sebelum Ada Perubahan di PSSI - Orbit Indonesia

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) belum menyelesaikan pekerjaannya untuk mencari fakta dibalik tewasnya 132 orang di peristiwa Kanjuruhan lalu. Disamping itu, Liga 1 Indonesia sedang dihentikan sementara sampai TGIPF selesai melakukan evaluasi mereka.

Hingga saat ini, sudah ditemukan berbagai fakta-fakta baru Kanjuruhan. Setelah tim gabung selesai melakukan investigasi, seluruh warga Indonesia akan mengetahui pihak mana yang harus mempertanggungjawabkan peristiwa mengerikan ini.

Melalui investigasi, polisi sudah mengakui bahwa gas air mata tidak hanya ditembakkan secara ilegal. Namun, gas tersebut sudah tidak layak pakai atau kadaluarsa. Karena sebab ini, banyak pendukung yang masih kesakitan karena tembakan tersebut.

Penembakan gas air mata juga dilakukan di luar stadion, hal ini menyebabkan banyak pendukung yang sudah berdesak-desakan di dalam stadion, kembali harus mendapatkan tembakan gas air mata di luar stadion.

Parahnya lagi, TGIPF menemukan fakta mengejutkan lainnya. Para pendukung yang berhasil selamat dari peristiwa Kanjuruhan mendapatkan intimidasi berupa ancaman melalui sarana komunikasi. Selang beberapa hari setelah kejadian atau langsung setelah peristiwa terjadi.

Untungnya, TGIPF sudah memeriksa enam tersangka Kanjuruhan dan memeriksa 32 CCTV di sekitar stadion agar menjadi bukti bagaimana peristiwa mengerikan ini terjadi. TGIPF juga menemukan adanya tindakan kekerasan dari Polri dan TNI yang akhirnya menumbulkan kepanikan laur biasa di tengah para pendukung.

Kepanikan ini yang menyebabkan semua pendukung berdesak-desakan menyelamatkan diri keluar stadion agar terhindar dari segala kekerasan di dalam. Dikabarkan juga, aparat keamanan juga tidak ada upaya menyelesaikan kericuhan dengan cara lain sebelum menembakkan gas air mata.

Semua fakta ini membuat publik semakin mendesak tim tersebut menyelesaikan evaluasi secepatnya agar tersangka dapat segera dihukum pihak berwajib. Kemudian, Ketua PSSI juga didesak untuk bertaggung jawab dengan turun dari jabatannya saat ini.

Berbagai fakta dan asumsi telah membuat publik marah besar, tetapi pemerintah seakan tidak ingin public turut campur dan menganggu jalannya penyelidikan. Melihat ini, salah satu pengamat sepak bola Indonesia memberikan pendapatnya.

Tommy Welly mengatakan bahwa para pendukung harus diikutsertakan selama perbaikan sepak bola Indonesia. Karena, pendukung merupakan korban sekaligus saksi peristiwa Kanjuruhan tersebut.

Mereka juga harus menjadi bagian dari reformasi agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Pengamat sepak bola Indonesia tersebut berharap adanya edukasi tentang fanatisme kepada seluruh pendukung klub sepak bola Indonesia.

Fanatisme diantara pendukung juga menjadi penyebab tragedi mematikan Kanjuruhan terjadi. Fanatisme memang wajar dimiliki setiap pendukung, tetapi tetap harus mengedepankan suportifitas selama pertandingan.

Semua pendukung harus meyadari klub kesayangannya memiliki dua kemungkinan ketika bertanding, menang atau kalah. Dimanapun pertandingan diadakan, kedua kemungkinan ini dapat terjadi. Jadi, ketika merasa kalah, pendukung bisa menunjukkan kekecewaannya dengan hal lainnya.

Dalam hal ini, Tommy berharap tanggung jawab edukasi dan merangkul pendukung sepak bola dilakukan oleh setiap klub. Setiap klub harus memiliki program untuk mendekatkan diri kepada para pendukungnya, karena pendukung merupakan bagian penting dari sepak bola.

Pendukung akan memberi semangat dan dukungan lain kepada klub yang ia dukung. Tanpa dukungan para pendukung tersebut, klub sepak bola Indonesia juga akan terasa mati. Setelah semua klub bisa mengedukasi para penggemarnya, selanjutnya PSSI dan Panitia Pelaksana pertandingan akan lebih mudah mengatur keamanan selama pertandingan.

Semoga saran ini dapat dilakukan oleh setiap klub dan TGIPF bisa segera menuntaskan hasil investigasinya untuk menemukan pihak yang akan mempertanggungjawabkan kasus Kanjuruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *